Memberikan Contoh
Memberikan contoh digunakan untuk memperjelas konsep, mendukung argumen, mengilustrasikan fenomena, atau menunjukkan penerapan suatu gagasan dalam konteks tertentu. Contoh yang baik membantu pembaca memahami ide abstrak secara lebih konkret.
Gunakan pola berikut ketika ingin memperjelas konsep atau memperkuat argumen. Pilih contoh yang relevan, representatif, dan sesuai dengan konteks pembahasan. Hindari contoh yang terlalu umum jika tidak membantu menjelaskan poin utama.
Pola Contoh Umum
| Pembuka Contoh | Objek | Fungsi Contoh | Penjelasan |
|---|---|---|---|
| Sebagai contoh, | fenomena tersebut | menunjukkan bahwa | praktik pembelajaran daring memiliki keragaman pendekatan |
| Misalnya, | kebijakan yang diterapkan | dapat dilihat pada | program literasi digital kampus |
| Contoh sederhana | dari konsep tersebut | tampak pada | praktik diskusi kelas berbasis kasus |
| Sebagai ilustrasi awal, | pola yang dijelaskan | dapat ditemui pada | aktivitas membaca akademik mahasiswa |
| Sebagai gambaran ringkas, | fenomena tersebut | tampak pada | penggunaan media sosial untuk diskusi akademik |
- “Sebagai contoh, fenomena tersebut menunjukkan bahwa praktik pembelajaran daring memiliki keragaman pendekatan yang berbeda antarprogram studi.”
Catatan EYD V dan KBBI
- Pilih contoh yang representatif dan tidak menyesatkan.
- Gunakan penanda "misalnya", "sebagai contoh", "sebagai ilustrasi", atau "yaitu" dengan tanda baca yang tepat.
- Hindari penggunaan contoh hipotetis tanpa konteks yang jelas dalam tulisan empiris.
- Sertakan sumber untuk contoh empiris.
- Periksa kebakuan istilah teknis yang muncul dalam contoh pada KBBI.
Contoh Paragraf
Sebagai contoh, penggunaan forum diskusi daring menunjukkan bahwa interaksi mahasiswa tidak selalu bergantung pada tatap muka langsung. Beberapa program studi melaporkan bahwa keterlibatan mahasiswa meningkat ketika diskusi daring difasilitasi oleh moderator. Ilustrasi tersebut memperjelas argumen bahwa praktik akademik bersifat kontekstual dan dipengaruhi oleh dukungan kelembagaan. Dengan demikian, contoh tersebut menegaskan bahwa perubahan pola interaksi akademik tidak hanya ditentukan oleh teknologi, melainkan juga oleh strategi fasilitasi yang digunakan.